Beberapa Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Posted on

Di masa pandemi ini, pemerintah menganjurkan kita untuk di vaksin, agar tubuh kitabisa kuat untuk menghadapi virus yang akan menyerang. Nama vaksin yang sering kita dengar yakni Sinovac dan AstraZeneca. Namun apakah perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca ?

Inilah Beberapa Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca dan Sinovac adalah dua jenis yang diberikan kepada kelompok prioritas, mulai dari tenaga medis sampai dengan lansia. Bicara soal vaksin, di Indonesia sekarang sudah tersedia 7 macam vaksin untuk mencegah penularan Covid-19. Namun dua jenis inilah yang paling familiar ditengah-tengah masyarakat. Lantas, apa perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca? Ketahui jawabannya pada artikel dibawah.

Sebagai informasi, vaksin AstraZeneca adalah hasil kolaborasi antara AstraZeneca (perusahaan farmasi di Inggris) dengan Universitas Oxfrod. Sedangkan vaksin Sinovac diproduksi perusahaan biofarmasi China.

Meski sama-sama berfungsi untuk melindungi tubuh dari penularan virus Corona, namun ada beberapa perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Langsung disimak informasi selengkapnya berikut.

Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Perbedaan paling mendasar diantara vaksin Sinovac dan AstraZeneca terletak pada kandungan didalamnya. Vaksin AstraZeneca dibuat menggunakan vektor adenovirus simpanse, sementara itu vaksin Sinovac menggunakan inactivated virus (virus tidak aktif).

Selain kandungan diantara kedua vaksin, perbedaannya juga terletak pada beberapa hal. Yaitu seperti dibawah:

Penyimpanan dan distribusi vaksin

Untuk vaksin AstraZeneca, maksimal waktu penyimpanannya adalah 6 bulan di lemari pendingin bersuhu antara 2-8 derajat Celsius.

Saat dikeluarkan dari lemari pendingin, Vaksin AstraZeneca dapat bertahan maksimal selama 6 jam di suhu 2 sampai 25 derajat Celcius. Vaksin ini tidak boleh dibekukan dan harus segera digunakan paling lambat 6 jam sesudah dibuka.    

Sedangkan untuk vaksin Sinovac, maksimal penyimpanannya mampu mencapai selama 3 tahun di lemari pendingin dan bersuhu 2-8 derajat Celcius. Vaksin Sinovac tidak boleh terkena paparan matahari langsung dan wajib dihindarkan.

Dengan mengetahui batas maksimal penyimpanan dan bagaimana proses distribusinya, ini bermanfaat untuk menjaga vaksin agar bekerja dengan baik dan tidak rusak.

Jadwal pemberian vaksin

Perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca selanjutnya ialah waktu pemberian dosis pertama dan dosis kedua. Rentang waktu pemberian vaksin Sinovac adalah 2 sampai 4 minggu sedangkan untuk vaksin AstraZeneca adalah antara 8 sampai 12 minggu.

Walaupun jadwal pemberian vaksin tahap pertama dan kedua berbeda, namun dosis vaksin Sinovac dan AstraZeneca yang direkomendasikan WHO sama. Yakni 0,5 ml disetiap kali suntik dan diberikan 2 kali.

Efek samping

Secara umum, efek samping vaksin Sinovac dan AstraZeneca itu sama-sama nyeri di bagian suntikan. Selain rasa nyeri, masih ada beberapa macam efek samping yang bisa muncul seperti:

Diare

Rasa lelah

Demam

Nyeri otot

Sakit kepala

Efek samping tersebut bersifat ringan dan bisa hilang dalam kurun waktu 1-2 hari. Untuk membantu mengatasinya, Anda diperbolehkan untuk mengonsumsi ibuprofen, paracetamol, antihistamin atau aspirin, sesuai dengan efek samping yang dirasakan.

Namun harus diingat, Anda tidak diperbolehkan mengonsumsi obat-obatan tadi sebelum melakukan vaksinasi. Minumlah obat sesuah divaksin dan merasakan efek samping, jangan minum dengan tujuan mencegah efek samping.    

Selain efek samping vaksin ringan, bisa juga muncul beberapa kondisi yang tergolong berat meskipun jarang terjadi. Diantaranya sebagai berikut:

Demam tinggi

Anemia hemolitik

Peradangan di daerah sumsum tulang belakang

Apabila Anda merasakan efek samping berat sesudah menerima vaksin Covid-19, dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter supaya mendapat penanganan lebih lanjut. 

Terlepas dari efek samping yang bisa saja terjadi, baik itu vaksin Sinovac maupun AstraZeneca keduanya sudah dinyatakan berstandar internasional oleh WHO. Mulai dari proses pembuatan, efikasinya, maupun keamanan.

Efektivitas vaksin

Ketika membahas perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca, maka kurang lengkap apabila tidak memperhatikan evektivitas keduanya. Meskipun begitu, sebenarnya penelitian di seluruh dunia masih terus menguji hal ini. Sebagai perbandingan, kita masih bisa melihat seberapa besar tingkat efikasi masing-masing vaksin.

Pertama-tama kita bicarakan tingkat efikasi AstraZeneca terlebih dahulu. Menurut klaimnya, vaksin AstraZeneca mempunyai tingkat efikasi sekitar 70%.

Namun setelah dilakukan uji klinis, ternyata efikasi vaksin AstraZeneca hanya mencapai 62% untuk mereka yang mendapatkan dua dosis penuh. Sedangkan untuk mereka yang mendapat satu setengah dosis, tingkat efikasi AstraZeneca sekitar 90%.

Sehingga, nilai rata-rata tingkat efikasi AstraZeneca untuk mencegah virus Covid-19 diketahui sekitar 76%.  

Sementara itu, tidak banyak ditemukan penelitian untuk mengetahui berapa nilai efikasi vaksin Sinovac. Pada sebuah uji klinis, diketahui sekitar 97%-100% dari mereka yang divaksin Sinovac berhasil mengembangkan antibodi untuk memerangi virus Covid-19.

Sebuah uji klinis yang dilakukan di Chili menyebutkan, bahwasannya tingkat efikasi vaksin Sinovac sekitar 56,5%. Nilai rata-rata efikasi vaksin Sinovac adalah disekitar 56%-65%.

Terlepas dari perbedaan tingkat efektivitasnya, baik vaksin Sinovac maupun AstraZeneca sama-sama terbukti mampu menurunkan risiko seseorang mengalami gejala berat Covid-19, mempersingkat durasi rawat inap bagi pasien Covid-19 dan mencegah perburukan kondisi.

Apabila Anda menerima giliran untuk melakukan vaksinasi, apapun itu jenisnya, maka tidak perlu khawatir dan lebih baik segera mungkin. Tujuannya adalah supaya pandemi Covid-19 di Indonesia bisa segera teratasi.

Beberapa Kriteria Orang yang Menerima Vaksin

Sebelum melakukan vaksin, ada baiknya memperhatikan terlebih dahulu kriteria-kriteria orang yang diperbolehkan untuk mengikutinya. Pastikan Anda sudah memenuhi beberapa kriteria berikut:

Suhu tubuh normal, dibawah 37,5 derajat Celcius

Tidak pernah menderita Covid-19 atau yang sudah sembuh minimal 3 bulan

Tekanan darah berada di bawah 180/110 mmHg ketika skrining sebelum melakukan vaksinais

Tidak hamil, sedangkan Ibu menyusui masih diperbolehkan menerima vaksin Covid-19

Penderita diabetes melitus bisa divaksinasi asalkan tidak mengalami komplikasi akut

Penderita penyakit paru-paru, seperti TBC atau PPOK hanya diperbolehkan vaksin apabila sudah terkontrol lewat pengobatan. Penderita TBC bisa divaksin dengan syarat sudah lebih dari 2 minggu teratur minum obat antituberkulosis  

Penderita HIV diperbolehkan melakukan vaksinasi Covid-19 apabila angka CD4-nya diatas 200

Selama 7 hari terakhir tidak mengalami gejala ISPA

Tidak mempunyai riwayat medis tertentu, seperti alergi vaksin dan menderita penyakit autoimun (seperti rheumatoid, penyakit Sjogren atau arthritis

Penyintas kanker dapat menerima vaksinasi. Namun jika mempunyai riwayat penyakit berat dan kondisi khusus, sebelum melakukan vaksin sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter    

Apakah Boleh Mengabaikan Protokol Kesehatan Sesudah Vaksin?

Inilah pertanyaan yang paling banyak ingin diketahui jawabannya oleh masyarakat. Tentu tidak sedikit orang yang berpikir bahwasannya vaksin membuat diri mereka kebal terhadap virus Covid-19 dan tidak perlu memperhatikan protokol kesehatan. 

Namun juga harus diingat, kehadiran vaksin bukan berarti melenyapkan Covid-19 begitu saja. Potensi penularannya masih tetap ada, terlebih lagi vaksinasi di Indonesia tidak dilakukan sekaligus melainkan secara bertahap.

Agar bisa mencapai level herd immunity terhadap virus Corona, membutuhkan sekitar 60-80% dari semua penduduk yang kebal Covid-19. Itu berarti, minimal 165 juta penduduk harus mendapatkan vaksinasi.  

Meskipun sekarang Anda sudah selesai divaksin, maka tetap diwajibkan memperhatikan protokol kesehatan.

Mulai dari rajin mencuci tangan, selalu memakai masker ketika di luar rumah, menjaga imun tubuh tetap kuat dan menerapkan physical distancing. Dengan upaya-upaya seperti ini, diharapkan pandemi Covid-19 di Indonesia segera teratasi.   

Demikianlah pembahasan tentang perbedaan vaksin Sinovac dan AstraZeneca, semoga bermanfaat.